Ibadah/Sukarela

Translate bahasa tersedia di samping!!!
Kabar Baik
=======================================
Kami menerima Anak terlantar/ anak yatim piatu untuk menjadi anak angkat, syarat : sehat jasmani dan rohani, umur maksimal 5 thn, niat untuk membesarkan bukan untuk dipekerjakan.=================================
catatan : seleksi kami lakukan

HUBUNGI Kami Di Nomor TELP.083875527958
No. BNI’46
Hubungi saya : email : choir_2002@yahoo.com

=====================================================

By choir2000

DUNIA PERIKLANAN / UNTUK UMUM SEMUA NEGARA

Teknisi

Memperbaiki Hardisk USB yg tidak terdeksi oleh pc komputer ataupun PS 2 anda, sehingga bisa terbaca kembali hardisk usb anda:
083875527958

Dicari dan dibeli dengan harga pantas

PS2 dan PS3, modem bolt kondisi siap pakai. Second Hubungi :
083875527958

Jasa Mengemudi

Freelance Pengemudi terima mengemudikan kendaraan anda. Melayani panggilan mengemudikan mobil pribadi ataupun perusahaan, dengan system jam2an ataupun harian, tenaga pengemudi berpengalaman 083875527958

Kontraktor Bangunan

Tersedia jasa Perbaikan rumah tinggal atau apartemen, tenaga terpercaya dan berpengalaman, dipegang oleh seorang Wanita Executive, E.Marlianti, ST.
================================
Anda Punya Modal, saya punya ide, atau anda ada ide, silahkan sms kami 083875527958

animasi
By choir2000

DONATUR

 

Ass. Wr. Wb
Saudara-saudara sekalian
dimanapun berada yang sedang beraktivitas,
Selamat datang di website dunia islam.
Adapun maksud dari Donatur disini adalah
memberikan dukungan kepada kami, agar bisa lancar
dan berjalan untuk menampilkan dunia islami.
Bantuan dapat dikirim BRI 0341-01-048009-50-1 atau hubungi email: choir_2002@yahoo.com

Terimakasih
Wassalam

By choir2000

Assalamu’alaikum Wr. Wb./Doa-doa

Do’a Agar Terhindar dari Cobaan yang Tidak Kita Sukai

July 16, 2005. Dikirim dalam Uncategorized | Comments Off

Terkadang sering kita temui ucapan-ucapan yang sangat akrab ditelinga kita dari ibu-ibu, remaja putri, dan masyarakat umum lainnya yang melihat pemandangan di depan mata mereka seorang yang pendek/cebol mungkin pincang….maka dengan otomatis mereka akan mengatakan, ih…amit-amit!! atau amit-amit jabang bayi!! Bila memang ada diantara mereka yang hamil segera sang ibu ini mengelus perutnya,..dan mengatakan hal yang sama. Suatu kejadian yang lumrah dan biasa dikalangan para ibu kita, di jalan, di kendaraan umum, atau dikampus teman-teman kita yang bener-bener jahil dalam ilmu agama tidak akan jauh berbeda mengucapkan hal yang sama.

Latah,..atau ucapan yang ga ada juntrungannya ini memang sudah membudaya. Padahal kalau kita mau belajar maka kebodohan-kebodohan yang ada pada diri kita bisa terkikis sedikit demi sedikit. Maunya sih, kita mengucapkan kata �amit-amit,…atau amit-amit jabang bayi (buat yang hamil) biar bebas atau terhindar dari hal yang dialami si pemilik musibah ini (orang yang buta, pincang, cebol,lepra dan lain-lainnya).Tapi, apa iya….ucapan diatas merupakan jurus yang ampuh?? bisa menghindari hal-hal diatas??.
Jawabnya, tentu saja tidak. Karena Sang Pemilik alam ini telah mengajarkan kepada Nabinya agar berlindung dari musibah atau hal-hal buruk yang tidak disukai manusia. Islam mengajarkan umatnya agar mereka mengucapkan do�a kepada Allah Ta�ala ketika melihat ujian atau cobaan yang buruk, bukannya malah latah atau mengucapkan perkataan yang aneh yang tidak akan membawa manfaat bagi orang yang mengucapkannya.

Sebagaimana yang telah kita ketahui sesungguhnya seorang muslim dan muslimah itu harus mengimani bahwa apa yang ditetapkan untuknya maka tidak akan meleset dan apa yang ditetapkan untuk orang lain tidak akan menimpanya.Allah menguji kita dengan sakit dan penyakit sebagaimana Dia menguji kita dengan kesehatan dan keselamatan agar Dia mengetahui dan Dialah yang paling mengetahui siapa diantara kita yang akan sabar menghadapi qadha-Nya (ketetapan) dan tidak meratapi takdir-Nya.
Hidup manusia akan selalu diuji dengan berbagai macam ujian dan cobaan, apabila cobaan yang menimpa adalah penghapus dosa dan adzab bagi para hamba, maka Rasulullah shalallahu alaihi wassalam telah mengingatkan kita tentang sebab-sebab yang bisa mengangkat cobaan itu dari kita dan menghilangkan kesulitan itu seperti taubat, istighfar dan mengembalikan hak-hak kepada pemiliknya dan sebab-sebab syar’i yang lain.Diantara sebab-sebab yang bisa melindungi kita dari buruknya cobaan adalah dengan membaca do’a yang diajarkan oleh junjungan kita dibawah ini.Sahabat yang mulia Abu Hurairah meriwayatkan kepada kita bahwa dia mendengar Rasulullah bersabda:
“Barangsiapa melihat orang yang mendapat cobaan kemudian dia berkata:Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkanku dari cobaann yang menimpamu dan telah memberiku keutamaan atas banyak makhluk-Nya dengan keutamaan yang banyak, maka dia tidak tertimpa cobaan tersebut”.
(Hadits Hasan riwayat Tirmidzi no.3943, Abu Nu’aim 5/13 dalam Al-Hilyah,Ath-Thabrani 1/241 dalam Ash-Shaghir dan dalam Ad-Du’aa 799,800 dan disanadnya terdapat Al-Amri salah seorang rawi yang lemah akan tetapi dikuatkan oleh hadits berikutnya dan yang lainnya sebagaimana disebutkan Al-Haitsami dalam kitab Majmuz Zawaid 10/138 lihat pula Mukhtasar Zaadul Ma’ad hal;149 bab: Khutbatul Hajah wa ba’dhal ad’iyyah fil munasibaat)
Dan dalam lafazh lain dari hadits Ibnu Umar dan dia mengangkatnya kepada Nabi berkata:
“Barangsiapa melihat orang yang tertimpa cobaan kemudian dia berkata:Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkanku dari cobaan yang menimpamu dan telah memberiku keutamaan yajng banyak, kecuali dia dibebaskan dari cobaan tersebut apapun bentuknya selama dia hidup”

(Hadits hasan, riwayat Tirmidzi 3492, Ibnu Majah 1092, Ibnu Abi Dunya 85 dalam Asy-Syukr, Abu Nuaim 6/265 dalam al-Hilyah, Ath-Thabrani 797,798 di Ad-Du’aa dan disanadnya terdapat rawi yang tidak diketahui, akan tetapi hadits ini mempunyai (riwayat-riwayat) yang menguatkan salah satunya adalah hadits sebelumnya)
Makna Hadits:
“Man ro a mubtalii/ man ro a sahiba balaa ” ===> barangsiapa melihat orang yang diuji yakni diuji dalam hal yang berkaitan dengan badannya, misalnya penyakit kusta atau sangat pendek (cebol) atau sangat panjang (jangkung) atau buta atau pincang atau bengkok tangannya dan lainnya.
“Alhamdulillahil ladzi ‘aafani mimmab talaa bihi” ===> segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkanku daripada cobaan yang menimpamu, sesungguhnya keselamatan lebih luas daripada cobaan, sebab cobaan bisa menyebabkan kesedihan dan fitnah pada saat itu cobaan menjadi ujian yang berat.Sementara mukmin yang kuat lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah sebagaimana Nabi yang mulia mengajarkan itu kepada kita.
“Wa fadhalani ‘alaa katsirin mimman khalaqa tafdhiilan”===> dan telah memberiku keutamaan atas banyak makhkluk-Nya dengan keutamaan yang banyak, yakni di dunia dan akhirat, hati dan jasmani.
“Illa ‘uwfiya min dzalikal balaa” ===> kecuali dia dibebaskan dari ujian tersebut.
“Kaainan maa kaana”===> apapun bentuk cobaannya, yakni keadaan cobaan tersebut apapun bentuk dan macamnya.
Maa “aasya” ===> selama dia hidup, yakni selama keberadaannya di dunia.
Abu Ja’far bin Ali rahimahullah berkata: “Apabila dia melihat orang yang tertimpa ujiann, maka dia berta’awudz (istiadzah), mengucapkan do’a tersebut dalam dirinya tanpa didengar orang yang tertimpa ujian tersebut.Semoga setelah membaca keterangan diatas kita tidak akan lagi ikut-ikutan latah seperti kebanyakan masyarakat kita dan bersegera mengamalkan do’a diatas agar Allah melindungi kita dari hal-hal yang tidak kita sukai. Amin.Wallahu ‘alam bishshawwab.
Sumber:
1. Bingkisan istimewa bagi muslimah, Abu Maryam As-Sayyid, Darul Haq.
2. Mukhtashar Zaadul Ma’ad,Ibnu Qayyim Al-Jawziyyah, Ta’lif oleh ;Syaikh Muhammad Abdul Wahhab, Cetakan Jami’ah Imam Ibnu Sa’ud Al-Islamiyah, Riyadh, 1991M.

By choir2000

DUNIA ANAK

Mempersiapkan Balita Melaksanakan Ibadah Shoum Di Bulan Ramadhan

osted: August 11, 2011 | Author: Failasufah | Filed under: Parenting, Religious | Leave a comment »

by Emmy Soekresno on Monday, 24 August 2009 at 15:30

Shoum merupakan ibadah ritual yang berhubungan erat dengan proses pembinaan ruhiyah, aqliyah dan jasadiyah. Di dalam ibadah ini anak akan diajak untuk mengenal semakin dalam makna sebenarnya dari bentuk keikhlasan di hadapan Allah SWT . Merasakan kehadiranNya walaupun tidak diketahui wujudNya, yaitu dengan mentaati apa yang telah diperintahkanNya.

Anak tidak hanya belajar menahan diri saja tapi ia juga dilatih untuk selalu bersikap sabar dan tabah. Kebanyakan ulama sepakat bahwa anak tidak diwajibkan melaksanakan shoum sampai usia baligh. Tapi para ulama tersebut menjadikannya sebagai amalan yang sangat dianjurkan.

Mari kita perhatikan bagaimana para sahabat di zaman Rasulullah SAW menjadikan ibadah shoum bukanlah sesuatu yang memberatkan bagi anak-anak. Mereka memberikan kepada anak-anaknya alat untuk bermain sebagai bentuk hiburan ditengah payahnya mereka melaksanakan shoum.

Sebuah hadits riwayat Bukhari dan Muslim tentang melatih shoum untuk anak-anak : “ ….. maka kamipun berpuasa dan juga memerintahkan anak-anak kami untuk turut melakukannya. Kemudian kami mengajak anak-anak itu ke mesjid dan memberinya sebuah permainan yang terbuat dari bulu/tanah, agar mereka terhibur dan tidak memikirkan puasanya. Dan apabila salah satu diantara mereka menangis karena merasakan lapar, kami memberinya permainan itu hingga waktu berbuka”.

Jadi tidak ada salahnya kalau dari dini kita sudah membiasakan anak-anak berpuasa. Sudah barang tentu sesuai dengan kemampuannya. Asy-Syahid Sayyid Qutb menegaskan bahwa puasa merupakan persiapan membiasakan jiwa untuk memikul rintangan perjalanan hidup, memantapkan aqidah yang kokoh dan teguh dan sarana mulia untuk menghubungkan manusia dengan Allah berupa kepatuhan dan ketaatan.

Kaidah-Kaidah Melatih Anak Shoum

Posted: August 11, 2011 | Author: Failasufah | Filed under: Parenting | Leave a comment »

by Emmy Soekresno on Monday, 24 August 2009 at 15:46

1. Perhatikan bahwa latihan shoum ini tidak mengabaikan fakta bahwa kebutuhan akan gizi dan tidur bagi anak balita sangatlah tinggi.

2. Pahamilah bahwa kegiatan ini adalah sebuah pelatihan, pengkondisian, pembiasaan dan penyiapan anak agar akrab dengan aktivitas ibadah, bukan sesuatu yang final. Sehingga kebijaksanaannya juga harus fleksibel sesuai dengan kondisi umur fisik dan keadaan psikologis anak.

3. Sebaliknya walaupun kegiatan ini hanya tingkat pelatihan namun hendaknya dilaksanakan sungguh-sungguh. Sehingga anak mengerti sejak dini untuk bersungguh-sungguh dalam melaksanakan sesuatu.

4. Prioritaskan kegiatan pelatihan ini daripada kegiatan lain. Temani anak sehingga mereka tahu bahwa orangtuanya juga terlibat dan terikat dalam berpuasa.

Melatih Anak Berpuasa Sejak Tahun Pertama Kehidupannya.
Posted: July 30, 2011 | Author: Failasufah | Filed under: Parenting | Leave a comment »

by Emmy Soekresno on Monday, 24 August 2009 at 16:12

Tahun pertama kehidupan seorang anak dapat dijadikan titik tolak melatih anak amaliyah ramadhan, yaitu dengan SAFARI IFTHOR. Yaitu anak di ajak keliling mesjid, rumah teman atau tetangga atau kerabat untuk merasakan energi positif kaum mukminin saat berbuka puasa. Ia akan merasakan kebahagiaan itu.

Tahun kedua kehidupannya ajarkan dia makan sahur. Setelah kedua orangtuanya makan sahur, bangunkan anak setengah jam sebelum imsak. Lalu suapi dia dengan makanan yang gampang dimakan seperti aneka nasi goreng. Misalnya nas gor telor, nas gor ayam, nas gor lain-lain.

Nah tahun ketiga kehidupannya anak dapat mulai merasakan kegiatan puasa itu sendiri. Dia diberitahu bahwa puasa adalah sampai Maghrib, tapi jika ia tak kuat bisa sampai Dhuha atau Zuhur. Dan tidak perlu puasa lagi setelah buka, karena akan merusak konsep utamanya yaitu tidak makan dan minum selama berpuasa. Jadi kalau udah makan dan minum udah batal karena dia masih lemah.

Tahun ke empat adalah dimulainya puasa yang sesungguhnya yaitu dari imsak sampai Maghrib. Tentunya persiapkan segala kegiatan, rayuan, VCD pilihan sangat membantu. Tapi anda harus konsisten, apapun yang terjadi anda hibur dia untuk tidak berbuka.

Tipsnya : Saya tidak setuju jika hadiahnya adalah uang karena uang bikin anak matre. Jadi saya ganti jadi kegiatan seni membuat sesuatu yang menyenangkan dan bermanfaat atau kegiatan keluar rumah yang juga ia sukai.

Wallohu a’alam bish showwab

Beberapa Jenis Kesulitan Belajar Anak
Posted: July 4, 2011 | Author: Failasufah | Filed under: Parenting | 1 Comment »

by Emmy Soekresno on Saturday, 17 October 2009 at 05:55

Cap yang kita berikan pada anak dapat memberikan dampak yang kurang baik bagi anak. Misalnya kita sering mengatakan pada anak kita kalau dia nakal, maka dia akan semakin sering bertingkah laku nakal karena dia sudah menganggap dirinya memang nakal. Demikian juga kalau kita mengecap mereka bodoh, tidak mau berusaha, atau malas, karena nilai-nilai mereka di sekolah buruk atau karena tidak bisa mengikuti pelajaran. Padahal belum tentu mereka bodoh atau malas. Mungkin mereka memang mengalami beberapa kesulitan dalam belajar.

Dalam belajar, ada beberapa jenis kesulitan yang mungkin dialami anak-anak. Mereka bisa mengalami kesulitan dalam membaca atau berhitung. Dan penyebabnya bukan karena mereka malas atau bodoh, tapi mungkin karena ada gangguan persarafan.

Ada tiga jenis gangguan belajar yang mungkin dialami dan diderita anak, yaitu menyangkut kemampuan membaca (disleksia), kemampuan berhitung (diskalkulia) dan menulis (disgrafia).

DISLEKSIA

Gejala dari kesulitan membaca ini adalah kemampuan membaca anak berada di bawah kemampuan yang seharusnya dengan mempertimbangkan tingkat inteligensi, usia dan pendidikannya. Gangguan ini bukan bentuk dari ketidakmampuan fisik, seperti karena ada masalah dengan penglihatan, tapi mengarah pada bagaimana otak mengolah dan memproses informasi yang sedang dibaca anak tersebut. Kesulitan ini biasanya baru terdeteksi setelah anak memasuki dunia sekolah untuk beberapa waktu.

Ada pun ciri-ciri anak yang mangalami disleksia adalah:
1. Tidak dapat mengucapkan irama kata-kata secara benar dan proporsional.
2. Kesulitan dalam mengurutkan huruf-huruf dalam kata.
3. Sulit menyuarakan fonem (satuan bunyi) dan memadukannya menjadi sebuah kata.
4. Sulit mengeja secara benar. Bahkan mungkin anak akan mengeja satu kata dengan bermacam ucapan.
5. Sulit mengeja kata atau suku kata dengan benar. Anak bingung menghadapi huruf yang mempunyai kemiripan bentuk seperti b – d, u – n, m – n.
6. Membaca satu kata dengan benar di satu halaman, tapi salah di halaman lainnya.
7. Kesulitan dalam memahami apa yang dibaca.
8. Sering terbalik dalam menuliskan atau mengucapkan kata. Misal, ‘hal’ menjadi ‘lah’, atau ‘kucing duduk di atas kursi’ menjadi ‘kursi duduk di atas kucing’
9. Rancu dengan kata-kata yang singkat, misalnya ke, dari, dan, jadi.
10. Bingung menentukan tangan mana yang dipakai untuk menulis.
11. Lupa mencantunkan huruf besar atau mencantumkannya di tempat yang salah.
12. Lupa meletakkan titik dan tanda-tanda baca lainnya.
13. Menulis huruf dan angka dengan hasil yang kurang baik.
14. Terdapat jarak pada huruf-huruf dalam rangkaian kata. Tulisannya tidak stabil, kadang naik, kadang turun.
15. Menempatkan paragraf secara keliru.

Walau pun mengalami kesulitan-kesulitan tersebut di atas, anak yang mengalami gangguan disleksia sebetulnya mempunyai kelebihan. Mereka biasanya sangat baik di bidang musik, seni, grafis dan aktivitas-aktivitas kreatif lainnya. Cara mereka berpikir adalah dengan gambar, tidak dengan huruf, angka, simbol atau kalimat. Mereka juga baik dalam menghafal dan mengingat informasi. Kesulitan mereka adalah bagaimana menyatukan informasi-informasi yang ada dan mengolah informasi tersebut.

Ada pun faktor penyebab dari disleksia adalah:
1. Faktor keturunan
Disleksia cenderung terdapat pada keluarga yang mempunyai anggota kidal. Namun, oramng tua yang disleksia tidak secara otomatis menurunkan gangguan ini pada anak-anaknya, atau anak kidal pasti disleksia.
2. Problem pendengaran sejak usia dini
Jika kesulitan pendengaran terjadi sejak dini dan tidak terdeteksi, maka otak yang sedang berkembang akan sulit menghubungkan bunyi datau suara yang didengarnya dengan huruf atau kata yang dilihatnya. Padahal, perkembangan kemampuan mendengar sangat penting bagi perkembangan kemampuan bahasa yang akhirnya dapat menyebabkan kesulitan jangka panjang. Konsultasi dan penganganan dari dokter ahli amat diperlukan.
3.Faktor kombinasi.
Yakni kombinasi dari dua hal diatas. Faktor kombinasi ini menyebabkan anak yang disleksia menjadi kian serius atau parah, hingga perlu penanganan menyeluruh dan kontinyu.

Pada dasarnya ada berbagai variasi tipe disleksia. Penemuan para ahli memperlihatkan bahwa perbedaan variasi itu begitu nyata, hingga tidak ada pola baku atau kriteria yang betul-betul cocok semuanya terhadap ciri-ciri seorang anak disleksia. Misalnya, ada anak disleksia yang bermasalah dengan kemampuan mengingat jangka pendeknya, sebaliknya ada pula yang ingatannya baik sekali. Lalu ada yang kemampuan matematisnya baik, tapi ada pula yang parah. Sehingga, diperlukan bantuan ahli (psikolog) untuk menemukan pemecahan yang tepat.

DISGRAFIA

Kelainan saraf ini menghambat kemampuan menulis yang meliputi hambatan fisik, seperti tidak dapat memegang pensil dengan mantap atau pun tulisan tangannya buruk. Anak dengan gangguan disgrafia sebetulnya mengalami kesulitan dalam mengharmonisasikan ingatan dengan penguasaan gerak ototnya secara otomatis saat menulis huruf dan angka.

Kesulitan ini sangat menghambat dalam proses belajar, terutama anak yang berada di tingkat SD. Mereka juga sering dianggap bodoh oleh orang tua dan guru. Akibatnya mereka mengalami frustrasi karena sebenarnya mereka ingin mengespresikan pikiran dan pengetahuan yang didapatnya dalam bentuk tulisan, tapi mereka mengalami hambatan.

Untuk itu orang tua sebaiknya memahami bahwa disgrafia bukan disebabkan karena tingkat inteligensi yang rendah, kemalasan atau tidak mau belajar. Juga bukan akibat dari kurangnya perhatian orang tua dan guru terhadap anak, atau akibat dari keterlambatan proses visual motoriknya.

Untuk mengetahu apakah anak mengalami disgrafia atau tidak, ada ciri-ciri umum:
1. Ada ketidakkonsistenan bentuk huruf dalam tulisannya.
2. Saat menulis, penggunaan huruf besar dan huruf kecil masih tercampur.
3. Ukuran dan bentuk huruf dalam tulisannya tidak proporsional.
4. Anak tampak berusaha keras saat mengkomunikasikan ide, pengatahuan dan perasaannya dalam bentuk tulisan.
5. Sulit memegang alat tulis dengan mantap. Seringkali terlau dekat bahkan hampir menempel dengan kertas.
6. Berbicara pada diri sendir ketika menulis atau terlalu memperhatikan tangan yang dipakai untuk menulis.
7. Cara menulis tidak konsisten.
8. Tetap mengalami kesulitan meski pun hanya diminta menyalin contoh tulisan yang sudah ada.

Orang tua, dan guru tentunya, bisa membantu anak dengan gangguan disleksi dengan beberapa hal, diantaranya:
1. Pahami keadaan anak
Sebaiknya tidak membandingkan anak tersebut dengan anak-anak lain. Sikap seperti itu akan membuat orang tua / guru dan anak merasa stres. Jika mungkin, berikan tugas menulis yang singkat-singkat saja. Atau meminta kebijakan dari sekolah untuk memberikan tes secara lisan.
2. Menulis dengan memakai media lain.
Beri kesempatan untuk menulis dengan menggunakan komputer atau mesin ketik. Dengan menggunakan komputer anak bisa mengetahui kesalahannya dalam mengeja dengan menggunakan fasilitas korektor ejaan.
3. Membangun rasa percaya diri anak.
Berikan pujian yang wajar bagi anak atas usahanya. Hindari untuk menyepelekan atau melecehkannya karena hal itu akan membuatnya rendah diri dan frustrasi. Kesabaran orang tua / guru akan membuat anak tenang dan sabar terhadap dirinya dan usaha yang dilakukannya.
4. Latih anak untuk terus menulis.
Pilih strategi yang sesuai dengan tingkat kesulitannya untuk mengerjakan tugas menulis. Berikan tugas yang menarik dan memang diminatinya. Bisa juga memintanya untuk memebuat gambar untuk tiap paragraf dalam tulisannya.

DISKALKULIA

Yakni gangguan pada kemampuan kalkulasi secara matematis. Terbagi menjadi bentuk kesulitan berhitung (countiing) dan kesulitan kalkulasi (calculating). Anak tersebut akan menunjukkan kesulitan dalam memahami proses-proses matematis. Biasanya ditandai dengan kesulitan belajar dan mengerjakan tugas yang melibatkan angka atau simbol matematis.

Ciri-ciri diskalkulia
1. Tingkat perkembangan bahasa dan lainnya normal. Seringkali mempunyai memori visual yang baik dalam merekam kata-kata tertulis.
2. Sulit melakukan hitungan matematis. Termasuk misalnya, sulit menghitung uang kembalian, atau transaksi. Anak menjadi takut memegang uang, atau menghindari transaksi.
3. Sulit melakukan proses-proses matematis, seperti menjumlah, mengurang, membagi, dan sulit memahami konsep hitungan angka atau urutan.
4. Kadang mengalami diorientasi waktu atau arah.
5. Terhambat dalam menggunakan konsep abstrak tentang waktu. Misalnya ia bingung dalam mengurut kejadian masa lalu atau masa mendatang.
6. Mengalami hambatan dalam pelajaran musik, karena sulit memahami notasi, urutan nada dan sebagainya.
7. Bisa mengalami kesulitan dalam aktivitas olahraga karena bingung mengikuti aturan main yang berhubungan dengan sistem skor.

Faktor-faktor yang menyebabkan gangguan belajar ini adalah:
1. Kelemahan pada proses penglihatan atau visual.
2. Kesulitan dalam proses mengurut informasi.
Matematika sangat membutuhkan prosedur penyelesaian yang berurut dan mengikuti pola-pola tertentu, sehingga bila ada kesulitan dalam mengurut informasi, dan hal ini sangat berkaitan dengan proses mengingat, maka anak akan kesulitan untuk mengikuti dan mengikuti prosedur untuk menyelesaikan persoalan matematis.
3. Fobia matematika.
Adanya keyakinan dalam diri anak yang bersangkutan bahwa dia tidak bisa matematika akan membuat dia punya sikap yang negatif tentang matematika. Fobia ini mungkin akibat dari trauma dengan pelajaran matematika, sehingga dia kehilangan kepercayaan dirinya terhadap hal-hal yang berhubungan dengan matematika.

Untuk membantu anak dengan diskalkulia belajar, orang tua bisa:
1. Usahakan untuk menggunakan gambar, kata-kata atau grafik untuk membantu pemahaman.
2. Hubungkan konsep-konsep matematika dalam aktivitas sehari-hari anak.
3. Lakukan pendekatan yang menarik terhadap matematika, misalnya permainan matematika dalam komputer atau buku-buku. Dalam permainan itu ada konsep-konsep untuk memahami proses-proses matematis, seperti mejumlah atau mengali. Dan luangkan waktu untuk berlatih tiap hari.
4. Tuliskan konsep matematis atau angka-angka di atas kertas agar anak melihatnya dan tidak sekedar abstrak.
5. Dorong anak untuk untuk melatih ingatan secara kreatif, misalnya menyanyikan angka-angka atau cara lain untuk mempermudah penampilan ingatannya akan angka.
6. Puji secara wajar untuk keberhasilan dan usaha anak.
7. Lakukan proses asosiasi untuk konsep yang sedang dipelajarinya dengan kehidupan sehari-hari

Tahap Perkembangan Anak Usia 3-4 Tahun

Posted: June 19, 2011 | Author: | Filed under: Parenting | Leave a comment »by Emmy Soekresno on Thursday, 15 October 2009 at 19:57

  1. Keterampilan Motorik
    Berjalan mundur, dengan ujung jempol-tumit
    Melompat ke depan 10 kali tanpa jatuh
    Naik dan turun tangga dengan kaki bergantian
    Dapat berputar & jungkir balik
    Dapat melompat dengan mengambil langkah-langkah yang besar (gallop)
    Berjalan di atas papan titian dari ujung satu ke lainnya
    Menangkap bola yang menggelinding
    Menggunting menurut garis tanpa terputus
    Meniru tanda silang dan segi empat
    Menulis huruf V dan H
    Meniru membangun menara pyramid dengan 6 kubus
    Mencocokkan pola yang simpel
  2. Ketrampilan Berbahasa 
    Dapat mengikuti 3 instruksi yang tidak ada hubungannya secara beruntun
    Mengerti kata-kata yang membandingkan misalnya : cantik, lebih cantik, paling cantik dan sejenisnya
    Mendengarkan cerita panjang, tapi mungkin masih salah dalam menginterpretasikan fakta
    Menggunakan instruksi verbal dalam bermain
    Mengerti kata-kata yang lebih abstrak
    Mengerti urutan kejadian jika diberitahukan misalnya : “Pertama kita ke toko, kemudian kamu boleh main”
    Mengajukan pertanyaan : kapan, bagaimana, dan mengapa
    Mempergunakan kalimat yang memakai kata : dapat dan mungkin dapat
    Menggabungkan beberapa kalimat
    Mempergunakan kata : karena dan jadi untuk menerangkan sebab akibat
    Dapat menceritakan kembali sebuah isi cerita, tapi mungkin masih tidak dapat menempatkan fakta secara benar
    Mengerti pertanyaan seperti : “Apa yang akan kita lakukan kalau kita lelah ?”
    Mengulang kalimat yang mengandung 5 kata
    Mengetahui lawan kata biasa seperti dingin dan panas
    Dapat menceritakan kembali secara logis cerita yang ia dengar
  3. Keterampilan Kognitf
    Memainkan pazel yang terdiri dari 10-14 keping
    Menghitung 3 buah benda dengan penuh pengertian
    Senang bermain dengan kata-kata : mengulang kata-kata yang tidak berarti dan berpantun
    Menunjuk dan menyebut 4 sampai 6 warna
    Mencocokkan gambar benda yang berhubungan seperti sepatu, kaki dan kaos kaki
    Menggambar orang dengan 6 bagian tubuh dengan bentuk yang dapat dikenali
    Dapat menyebutkan banyak bagian tubuh pada gambar atau dirinya
    Dapat menyebutkan urutan angka 1 sampai 5 atau mungkin juga sampai 10
    Mengenali jalan rumah dan kota tempat tinggalnya, mungkin juga nomor teleponnya
    Mengerti konsep siang dan malam hari
    Menjawab pertanyaan seperti : “Apa gunanya mata kita? “
    Memiliki kemampuan konsentrasi yang lebih lama. Anak belajar melalui observasi dan mendengarkan orang dewasa, juga melalui eksplorasi
    Perhatian masih mudah beralih
    Mengerti lebih baik mengenai konsep penggunaan (suatu benda), waktu, seluruh, sebagian
    Mungkin sudah dapat mengatakan guna sebuah benda selain tahu namanya
    Mengerti konsep waktu termasuk kemarin, minggu lalu dan dulu
    Mencocokkan kartu dan lotto
    Mengerti konsep 1-1
    Mengerti konsep angka 2 dan 3
    Mencocokkan kartu huruf, bentuk dan angka
  4. Keterampilan Mengurus Diri Sendiri dan Bersosialisasi
    Memotong sendiri makanan yang mudah dipotong dengan pisau
    Menalikan tali sepatu
    Mengancingkan kancing ukuran sedang dan besar
    Dapat ke toilet sendiri, juga membersihkan diri dan berpakaian
    Dapat membedakan depan dan belakang baju
    Mencuci muka dan atau tangan sendiri dengan baik
    Dapat membuka dan menutup ritsleting
    Dapat membereskan mainan dan mengembalikan ke tempatnya
    Bermain dan berinteraksi dengan anak lain tanpa mengalami banyak masalah
    Permainan sandiwara lebih menyerupai keadaan sebenarnya, dengan banyak perhatian ditujukan pada detil waktu dan ruang
    Senang bermain peran
    Memperlihatkan minat mengeksplorasi perbedaan lelaki dan perempuan
    Bersedia berpisah dengan ibu dengan santai
    Menggunakan alat-alat permainan dengan baik
    Mendengarkan cerita dengan baik dan penuh konsentrasi
    Senang menjadi bagian dari sebuah grup
    Mulai bisa menerima tanggung jawab

Tahap Perkembangan Anak Usia 2-3 Tahun

Posted: June 18, 2011 | Author: | Filed under: Parenting | Leave a comment »

by Emmy Soekresno on Wednesday, 14 October 2009 at 20:12

  1. Keterampilan Motorik
    Menaiki tangga, memegang pegangan tangga, menggunakan kaki secara bergantian
    Berlari di antara rintangan-rintangan
    Berdiri dengan satu kaki untuk beberapa detik tanpa hilang keseimbangan
    Melompat dengan satu kaki
    Mendorong, menarik dan menyetir permainan beroda
    Dapat menggunakan sepeda roda tiga
    Menggunakan papan luncur tanpa bantuan
    Melompat rintangan setinggi sekitar 15 cm, menapak dengan dua kaki
    Melempar bola dengan tangan di atas kepala
    Menangkap bola yang melambung
    Mengancingkan kancing tekan
    Dapat membangun menara dari 9 sampai 12 balok
    Dapat memasukkan paku-pakuan ke dalam lubang
    Dapat meniru gambar lingkaran
    Dapat meniru tanda silang
    Dapat menggulung dan membentuk tanah liat (play doh/ lilin mainan)
    Meronce dengan manik-manik dengan lubang berdiameter 1 cm
    Dapat menggunting kertas menjadi terbelah dua
    Dapat menyelesaikan 10 keping pazel berkenop
  2. Keterampilan Berbahasa
    Mulai mengerti kata yang menerangkan waktu seperti : “Besok kita akan ke rumah nenek”
    Mengerti konsep besar dan kecil, panjang dan pendek
    Mengerti arti hubungan jika menggunakan kata “kalau…”, ”kemudian…” dan “karena”
    Dapat melakukan 2 sampai 4 kegiatan dengan instruksi yang berhubungan
    Mengerti arti kata “pura-puranya”
    Kosa kata berjumlah lebih dari 1000 kata
    Mengerti beberapa kata abstrak
    Memberi jawaban yang relevan jika ditanya
    Bercerita mengenai pengalamannya di masa lalu
    Menggunakan kata yang bersifat majemuk
    Menggunakan bentuk kalimat yang menceritakan masa lalu
    Menggunakan kata aku atau saya untuk menunjuk dirinya
    Menyebutkan finger play, pantun, menyanyi sebuah lagu
    Menyebutkan tiga buah angka yang berurutan
    Bahasa yang dipergunakan dapat dimengerti orang lain, meskipun masih sering membuat kesalahan
    Umumnya kalimat terdiri dari 4 sampai 5 kata
    Menggunakan kata depan di dalam, bawah dan di atas dalam kalimat dengan tepat
  3. Keterampilan Kognitif
    Mengenali dan dapat mencocokkan 6 warna
    Menyelesaikan 3 sampai 5 keping pazel
    Menyusun balok atau lingkaran menurut ukuran dari besar ke kecil
    Membangun jembatan dari 3 balok
    Menggambar dengan bentuk yang lebih dapat dikenali
    Menyebutkan dan menjelaskan secara singkat mengenai gambar yang dilihat
    Dapat menghitung benda sampai 3 buah
    Mengetahui gendernya (lelaki atau perempuan)
    Mengetahui nama depan dan nama belakangnya
    Memiliki kemampuan konsentrasi yang pendek, masih mudah teralihkan
    Belajar melalui observasi dan meniru orang dewasa
    Memiliki pengertian yang lebih luas mengenai guna dan pengelompokan benda
    Dapat menyambung dua bagian dari sebuah gambar menjadi satu
    Mengerti konsep sama dan berbeda
    Dapat mencocokkan bentuk geometris yang sama
    Mulai menyadari konsep masa lalu dan sekarang
  4. Keterampilan Mengurus Diri Sendiri
    Makan sendiri tanpa banyak bantuan
    Menyisir rambut sendiri
    Menuangkan air/pasir dari teko (botol) ke dalam gekas/cangkir/wadah lainnya
    Mengoles mentega dengan pisau roti
    Mengancingkan dan membuka kancing ukuran besar
    Mencuci tangan tanpa bantuan
    Menggunakan tissue dengan petunjuk
    Menggunakan toilet sendiri (namun masih memerlukan bantuan untuk membersihkan dan memakai baju kembali)
    Memakai kaos kaki dan sepatu tanpa tali
    Menyikat gigi dengan cukup teliti
    Bermain dengan anak lain, melakukan interaksi
    Menunggu giliran dan berbagi dengan dorongan dari orang lain
    Berusaha untuk membantu mengerjakan pekerjaan di rumah seperti menyapu
    Memulai permainan sandiwara (drama) & melakukan tingkah laku menurut peranannya seperti mengurus bayi
By choir2000